HALAMAN 2 – SAMBUTAN

SAMBUTAN

 

 

KETUA PP PERDAMI

Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, PhD, SpM(K).

 

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Badan Kesehatan Dunia  / WHO menempatkan Indonesia pada posisi yang kurang baik yaitu setara dengan Negara-negara di benua Afrika yaitu dengan prevalensi kebutaan diatas 1%.  Hasil survey Kebutaan dan Morbiditas Nasional tahun 1993-1996 justru memperlihatkan peningkatan prevalensi kebutaan dibandingkan survey tahun 1982.

 

Berbagai upaya telah dilakukan, baik oleh Departemen Kesehatan, ataupun oleh Perdami namun tidak memberi hasil yang signifikan dalam mengurangi backlog kebutaan yang di-dominasi oleh kebutaan katarak. Hal itu terjadi antara lain karena rendahnya Cataract Surgical Rate, dan karena tidak tercapainya tingkat Cataract Surgical Outcome yang ditentukan oleh WHO.

 

Kondisi tsb dipengaruhi juga oleh rendahnya jumlah Spesialis Mata yang terlibat pada kegiatan operasi katarak di masyarakat; baik yang secara tetap maupun yang sukarela. Disamping dukungan pendanaan yang terbatas dan kurang berkesinambungan. Persepsi bahwa masalah kebutaan adalah bukan masalah untuk klinisi tapi masalah komunitas; sudah seharusnya di-hapuskan; karena masalah profesi kita di komunitas adalah tugas profesi kita bersama!.

 

Sehubungan dengan itu, saya menyambut gembira terbitan perdana Media Oftalmologi Komunitas yang di motori oleh Seminat Oftalmologi Komunitas. Besar harapan saya kiranya berita-berita dan artikel yang ada dapat menumbuhkan keingin-tahuan, empati dan meningkatkan peranserta aktif sejawat lainnya. Karena pada dasarnya setiap bidang ke-ilmuan (baca Seminat) mempunyai aspek masalah komunitas.  Perlu diingatkan kembali bahwa kegiatan pengabdian masyarakat oleh profesi kita diamanahkan dalam tujuan profesi (baca Anggaran Dasar Perdami) dan merupakan keharusan dalam proses resertifikasi.

 

Disisi lain, dari sudut organisasi adanya berbagai media informasi dari berbagai aspek kegiatan organisasi perlu dikaji kembali secara bersama dan dengan hati bersih. Upaya menyatukan sumberdaya perlu dike-depan-kan agar dapat mengurangi kompetisi internal dan meningkatkan ketajaman, kedalaman informasi sehingga meningkatkan kredibilitas dan daya saing kita secara nasional.

 

Jakarta, 28 Juli 2008-07-28

Tinggalkan Balasan