HALAMAN 4-EDITORIAL

EDITORIAL

Dr. Riki Tsan, SpM

Pemimpin Redaksi

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa  akhirnya Media Oftalmologi Komunitas ( MOK ) yang ada di tangan sejawat ini dapat   diterbitkan pada acara PIT ke 34 di Makassar. Motivasi pokok menerbitkan media  ini tidak lain sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kami sebagai anggota profesi Perdami untuk menjalankan salah satu amanah dari 6 butir Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan  ( Renstranas PGPK ) yang telah disusun dengan sungguh – sungguh oleh Depkes RI bersama – sama dengan organisasi profesi Perdami, 5 tahun yang silam.

Amanah dimaksud termaktub di dalam Strategi II pada bagian Pokok Kegiatan yang menegaskan tanggung jawab kita untuk meningkatkan pemanfaatan media cetak dalam konteks membangun opini yang mendukung PGPK. Namun sayang sekali, seiring dengan berlalunya waktu, amanah ini seolah – olah terlupakan dan tidak terlihat adanya tanda – tanda untuk merealisasikannya..

 Di luar perkiraan redaksi, upaya untuk menerbitkan MOK ini ternyata memperoleh sambutan yang luar biasa dari rekan – rekan sejawat. Seakan – akan mereka telah lama merindukan hadirnya sebuah media yang bisa menjadi wadah komunikasi sekaligus sumber informasi  bagi para sejawat yang selama ini aktif berkecimpung di dalam berbagai program kegiatan oftalmologi komunitas. Hanya dalam tempo 1 bulan, telah terkumpul hampir 15 makalah, artikel dan foto – foto serta berbagai pesan singkat yang mendukung penerbitan MOK dari anggota Perdami  yang berasal dari Sumatera Utara, Bali, Jakarta, Surabaya, Bekasi, Bandung, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.

 Antusiasme para sejawat ini secara secara kasat mata memperlihatkan kepada kita bahwa keharusan kehadiran media cetak dalam sebuah komunitas profesi  ( baca ; seminat ) memang sebagai sesuatu hal yang tidak dapat ditawar – tawar lagi.. Kenapa ?. Karena, sudah terbukti media cetak bisa dijadikan sebagai lahan untuk mengembangkan pemikiran, mengasah kemampuan analisa dan kritik, disamping tentu saja sebagai sarana untuk saling berbagi pengalaman dan informasi diantara sesama anggota  perdami yang berbeda – beda latar belakang keminatannya. Ini berarti, munculnya media cetak di kalangan komunitas seminat, menunjukkan indikasi sehatnya dinamika organisasi Perdami.

 Karena itu, menurut hemat saya ,munculnya wacana untuk mensentralisasikan dan mengunifikasikan media informasi di organisasi Perdami harus kita kritisi hati – hati – untuk tidak mengatakan, menolak ! – karena, pertama,  gagasan ini berpotensi menyumbat saluran kreativitas dan inovasi anggota Perdami, khususnya di bidang tulis menulis. Kedua, ide ini tidak selaras dengan iklim desentralisasi atau otonomisasi yang sedang berlangsung di berbagai belahan kehidupan kita serta menjadi trend global di era reformasi dan di dunia dewasa ini. Kita bisa mengambil analogi – sekaligus pelajaran- bagaimana di era sebelum reformasi, kebijakan pemerintah pusat yang terlalu sentralistik cenderung membuat daerah tidak bisa berkembang untuk mendayagunakan kemampuannya.

 Karena itulah saya mengajak kita semua untuk mulai mengubah mind set kita, paradigma kita atau pola fikir kita. Adanya berbagai kelompok seminat, adanya berbagai kegiatan yang dilakukan seminat atau munculnya berbagai media seminat janganlah dilihat sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan seakan – akan pasti menimbulkan friksi diantara kita. Mulailah untuk menyadari bahwa keragaman ‘anak-anak’ seminat dengan segala dinamikanya itu merupakan asset berharga  yang dimiliki dan harus dipelihara oleh ‘ibu’ organisasi yang bernama Perdami.

 Ofkom dan PGPK

 Salah satu tujuan pokok dari diterbitkannya MOK sebagaimana disepakati oleh pertemuan seminat oftalamologi  komunitas 22 Juni 2008 di RS Cicendo Bandung adalah mencoba mensosialisasikan dan menginformasikan tentang oftalmologi komunitas                ( ofkom )  itu sendiri. Kenapa hal ini perlu dilakukan ?. Pertama, Dalam kenyataannya, tidak sedikit diantara rekan – rekan sejawat kita, yang belum begitu memahami dan menghayati oftalmologi komunitas atau salah persepsi terhadap salah satu cabang dari ilmu oftalmologi ini.

 Salah satu contoh kesalahan persepsi itu ialah menganggap bahwa yang dinamakan oftalmologi komunitas hanyalah sekedar melakukan kegiatan operasi katarak bagi . masyarakat miskin yang lazim dikenal dengan baksos katarak ( sebagian mengartikannya dengan ‘pengabdian masyarakat’ ). Contoh lain adalah penanggulangan kebutaan di Indonesia ini akan berhasil hanya dengan ‘membabat habis orang – orang buta katarak sebanyak – banyaknya’. Seolah – olah masalah kebutaan di Indonesia hanya buta katarak an sich ! Persepsi yang terakhir ini jelas tidak tepat ( walaupun tidak sepenuhnya salah )  karena masalah kebutaan  tidak hanya disebabkan oleh katarak. Sama kelirunya mengatakan – dalam konteks PGPK – bahwa semua penyakit mata pasti memiliki implikasi sosial/kemasyarakatan. Untuk memahami hal ini, kita perlu mencermati dokumen Vision 2020 : Right to Sight tentang penyakit – penyakit mata yang disebut – sebut sebagai ‘biang keladi’ penyebab avoidable blindness serta memiliki dampak sosial yang luas di permukaan bumi ini.

 DR.Dr.Farida Sirlan,SpM, Ketua Seminat Oftalmologi Komunitas, menegaskan bahwa Oftalmologi Komunitas bukan sekedar melakukan kegiatan operasi katarak bagi masyarakat miskin, namun merupakan kegiatan comprehensive eye care program management , atau sebuah program manajemen yang lengkap di bidang pelayanan kesehatan mata.

 Dalam bahasa Dr. ‘Kak’ Pinto ( atau Dr. Siti Farida )  ;  “kalau hanya datang untuk operasi katarak lalu pulang, siapapun bisa!!”. Ini bermakna – dalam kacamata kedua sejawat yang sudah malang melintang bekerja di komunitas ini – Oftalmologi Komunitas – sekali lagi – tidak hanya sekedar “datang, duduk manis, operasi lalu pulang” . Ada sisi – sisi lain yang perlu kita pelajari, kita hayati dan kita implementasikan di dalam masyarakat.

Tinggalkan Balasan